Selasa, 15 Mei 2012

Yang Pertama, Berkesan: Ammi Cutter

 
Hemm.. to the point aja yaaa..bagaimana sih perasaan kalian, ketika menjalankan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati kalian? Tidak pas dengan keinginan kalian? Tidak kalian tahu, kalian suka, kalian kenal???
Bagaimana jika sudah terlanjur menjalankan itu? Apakah akan berhenti meninggalkan yang tidak kalian sukai itu? Atau berusaha menjalani itu semua, mengingat ada pepatah “witing tresno jalaran soko kulino” ketika mencoba menjalani secara berulang kali akan menumbuhkan kesukaan?
Setiap pribadi memiliki pendapat yang berbeda-beda dengan sudut pandangnya masing-masing.
Sebentar... ini sebenarnya mempermasalahkan apa yaa?...
Tulisan ini akan membicarakan jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi (selanjutnya kita sebut IPI), ketika banyak mahasiswa yang ternyata memilih jurusan IPI atas dasar keterpaksaan.. bukan pilihan utama dan tujuan utama. Seperti halnya saya, yang masuk di jurusan IPI bukan karena pengetahuan tentang ilmu perpustakaan dan terkaget-kaget ketika mengetahui kurikulum pembelajarannya...... “haaaa..gak ada hitung-hitungannya???, semuanya baruu.” Udah rasanya ingin transfer jurusan tapi apa daya..
Saya tak berhenti di situ, tetap mencoba mencintai dan menikmati keterlanjuran ini –kata Bu Sri dalam acara talkshow. Butuh usaha yang ekstraa... sampai-sampai ingin rasanya mencari biografi tokoh-tokoh pustakawan di dunia ini. Apa sebenarnya yang membuat mereka terjun di dunia kepustakawan yang banyak tidak saya tahu apa menariknya, sementara ada tidak sedikit mahasiswa yang menganggap tersesat memilih jurusan, semoga tersesat dalam jalan kebenaran J. Jadi.. sedikit demi sedikit waktu saya luangkan untuk mencari referensi yang membicarakan kiprah seseorang dalam dunia kepustakawan.. huh namun sedikit sekali saya temukan. Padahal banyak sekali tokoh-tokoh besar dan berpengaruh. Kalaupun ada, saya harus menerjemahkannya. Perlu berkali-kali kerja untuk mengetahui sejarah tokoh ilmuwan dan pustakawan. Seperti yang disampaikan oleh Pak Blasius, ilmuwan dan pustakwan dalam dunia kepustakawanan. Dalam diskusi publik dan obrolan santai, beliau berulang kali menekankan pada kita, siapa yang menjadi teladan, contoh bagi pustakawan. Jika guru maka tokoh teladannya adalah Ki Hajar Dewantara, jika Insinyur tokoh teladannya adalah Habibie. Tapi tetap, yang jadi teladan bagi umat beragama Islam adalah Nabi Muhammad SAW.

Saya awali dengan menulis Charless Ammi Cutter, tokoh yang paling saya ingat pertama kali di mata kuliah Dasar-Dasar Katalogisasi yang saat itu diampuh oleh Pak Anis. Beliau sangat menekankan hukum-hukum yang diciptakan oleh  Cutter sampai-sampai beliau menjadikannya soal dalam UTS (Ujian Tengah Semester) dan Ujian Ulang Tengah Semester. Sehingga dari keterbiasaan itu melatih otak untuk menyimpan memori tersebut tanpa ada pemaksaan menghafal nama asing itu.
Ammi Cutter lahir di Boston, Massachusetts. Awal kiprahnya dalam dunia kepustakawanan adalah ketika beliau masih duduk sebagai pelajar di Sekolah Harvard, sekaligus belajar menjadi asisten pustakawan. Baru setelah lulus, Cutter bekerja sebagai pustakawan di Kampus Harvard. Dari situlah tempat yang menjadi awal penemuan dan mengembangkan indeks katalog dengan menggunakan kartu. Cutter memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam perkembangan bidang ilmu Perpustakaan dan Informasi, salah satunya yaitu pada perkembangan sistem perluasan klasifikasi, sistem ini mempengaruhi perkembangan di Library Congress. Sebagai bagian dari pekerjaannya pada sistem ini, beliau mengembangkan sistem yang menggunakan tabel menurut abjad dengan menyingkat nama-nama pengarang dan dengan begitu menghasilkan nomor panggil yang unik. Sisttem penomoran ini masih dipakai hingga sekarang. Jadi ketika pemustaka atau siapa pun yang terjun dalam dunia kepustakawanan maka akan menemui singkatan nama pengarang dalam nomor panggil sebuah koleksi. Nah inilah yang dicetuskan oleh Cutter yang sampai sekarang masih dirasakan manfaatnya. Cutter juga merupakan satu dari 100 atau bahkan lebih dati anggota yang mendirikan ALA (American Library Assosiation) pada tahun 1876 di mana Cutter merupakan salah satu anggota dari Library Hall of Fame.
Kita flash back pada saat Cutter menjadi asisten pustakawan atau dari sumber yang saya baca disebut sebagai Pelajar-Pustakawan. Cutter menjabat sebagai Pelajar-Pustakawan sejak tahun 1857-1859 di Sekolah Harvard Divinity. Cutter menyusun kembali koleksi perpustakaan di rak ke dalam perluasan kategori subjek selama tahun 1857-1858. Setelah lulus dari sekolahnya, Cutter menjadi asisten Dr. Erza Abbot, asisten pustakawan Perpustakaan Universitas Harvard. Beberapa tahun kemudian pada tahun 1868 Cutter menerima sebuah posisi di Perpustakaan Athenaeum. Salah satu tujuan utama adalah untuk mempublikasikan sebuah kamus katalog yang lengkap untuk menjadi koleksi mereka. Cutter menjadi pustakawan di Boston Athenaeum selama dua lima puluh tahun. Pada tahun 1876 Cutter diajak oleh Pendidikan Bureau untuk membantu menulis sebuah laporan tentang perpustakaan swasta. Dari pengalaman yang dialami oleh cutter, kita dapat menyelaraskan dengan pustakawan masa kini. Sejak dahulu hingga sekarang, pustakawan tidak bisa dilepaskan dari dunia kepenulisan. Beliau juga menjadi salah satu editor di sebuah jurnal perpustakan sejak tahun 1891-1893. Dari beragam artikel yang ditulisnya, salah satu artikel yang sangat terkenal berjudul “The Buffalo Public Library in 1983”. Dalam artikel tersebut, beliau menuliskan tentang apa yang ada dalam pemikirannya tentang perpustakaan. Seperti apa perpustakaan pada ratusan tahun yang akan datang.
Pada tahun 1903 Cutter meninggalkan dunia kepustakawanan saat tujuannya belum mampu beliau selesaikan. Beliau berusaha untuk mengembangkan sistem pengkatalogan yang disebut sistem perluasan klasifikasi. Beliau meninggal pada tepatnya tanggal 6 September 1903 di Walpole, New Hampshire.
Meskipun tujuannya belum tercapai sepenuhnya, namun jasanya dapat dirasakan dalam dunia kepustakawanan... sedikit dari kita yang mengetahui perjalanan tokoh berpengaruh ini. Oleh sebab itu saya belajar mengulas secara singkat tentang tokoh perpustakaan dengan referensi yang terbatas..

1 komentar:

Uwik Storia mengatakan...

oalah...
ini toh tulisannya yang diketik2 tadi sampe jerit2 sendiri...
ternyata masuk IPI karena terpaksa..

tulisannya apik dek,....
lanjutkan,, tak tunggu lagi entrinya ^_^

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India