Selasa, 06 Maret 2012

BUKU selalu menjadi benda berharga


Tahukah kamu siapa pacar pertama Bung Hatta?
Mohammad Hatta adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.. Hatta adalah sosok yang kalem, necis, pemikir serius, sederhana, berketetapan hati tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.

Namun yang saya bahas di sini adalah pacar pertama Bung Hatta. Ketika saya membaca salah satu judul bab pada buku “Bung HATTA: Si Bung yang Jujur dan Sederhana” karya Adhe Firmansyah yaitu Pacar Pertama Si Bung sedikit menggelitik saya dan membuat saya penasaran. Tahukah apa yang saya dapatkan ketika membaca paragraf pertama dari bab ini?.. sebuah kekaguman yang luar biasa. Mohammad Hatta adalah sosok yang jauh dari kemewahan dan kegairahan atau perempuan. Kekasihnya adalah BUKU, BUKU, BUKU. Hingga muncul anekdot bahwa istri utama Hatta sesungguhnya adalah BUKU, istri keduanya adalah BUKU dan istri yang ketiga barulah Rahmi. Sungguh mengagumkan bukan? (DI TINGKAT BERAPA KITA MELETAKKAN BUKU SEBAGAI SESUATU YANG KITA CINTAI??)


Sudah sejak umur lima tahun Hatta suka membaca dan menulis. Kakek Hatta-Lembaq Tuah lah yang menjadi saksi bahwa Hatta menyukai aktivitas ini. Ia selalu membuka setiap halaman dengan hati-hati, dipahami dan dicermati. Inilah salah satunya wujud Hatta menghargai dan merawat buku. Setamat sekolah di Padang, pada pertengahan Juni 1919 Hatta berangkat ke Betawi untuk melanjutkan studinya. Ia tinggal bersama Mak Etek Ayub, pamannya. Ayub adalag seorang perantau dari Bukittinggi, seorang saudagar barang hutan di Payakumbuh. Ia sahabat Ilyas Baginda Marah, Kakek Bung Hatta.

Pada masa itu, Ayub bekerja sebagai juru tulis pedagang bangsa Jerman. Selama bekerja, Ayub sangatlah rajin sehingga menjadikan sang majikan mengangkatnya menjadi seorang anak. Beberapa lama setelah menjadi anak majikan, Ayub menjadi saudagar yang kaya. Namun status kekayaannya lantas membuatnya menjadi sombong, Ia justru hidup sederhana. Ayub adalah orang yang berpengaruh dalam kehidupan Hatta karena Ia lah yang membiayai kuliah dan kehidupan Hatta selama di Jakarta.. setiap bulannya Hatta selalu dijatah 75 gulden, tentu saja jumlah mata uang ini pada masanya tidaklah sedikit untuk ukuran pelajar perantauan. Ayub tidak ingin membuat keluarga Hatta merasa direpotkan lantaran anaknya melanjutkan studinya di Jakarta.. ia sengaja menyimpan uang hasil kiriman dari orang tuanya di pos..

Ayub lah yang pertama kali memeperkenalkan Hatta pada buku, Hatta diajaknya ke toko buku dan ada tiga buku yang menjadi koleksi pertama di perpustakaannya yang bersubjek sosial, ekonomi. Stathulis Houdkunde karangan N.G. Pierson, De Socialisten karangan H.P. Quack dan Het Jaar 2000 Belamy. Pada bulan Maret 1921 Hatta pindah dari tempat kosnya ke rumah baru Mak Etek Ayub di kawasan Tanah Abang. Hatta disediakan dua ruang kamar, satu kamar untuku tidur dan satu kamar untuk ruang kerja. Menurut Hatta, pekerjaan Etek Ayub adalah dagang waktu karena Etek Ayub memainkan waktu dalam memperdagankan barang yang sudah dibelinya. Jadi semisal membeli barang sekarang, Etek Ayub menjualnya pada beberapa waktu kemudian. Tinggal untung-ruginya saja. Dan Etek Ayub pandai sekali memperkirakan nasibnya dalam persoalan dagang waktu. Pernah suatu ketika dengan mudahnya dalam waktu sepuluh menit saja Etek Ayub mampu meraup keuntungan sebesar 10 gulden.
Malang sekali Etek Ayub mengalami kepailitan. Ia dipenjara karena tidak mampu membayar hutangnya. Saat itu, Ia berpesan pada Hatta untuk terus meraih cita-citanya dan berkata bahwa Ia hanya butuh istirahat sebentar di penjara. Pada tahun 1948 Etek Ayub meninggalkan kehidupan dunia.

Yang perlu kita teladani dari Hatta adalah kesukaannya pada membaca dan menulis. Bahkan Hatta membuat jadwal membaca dalam kesehariaannya. Pada malam hari Ia membaca buku-buku pelajaran dan buku-buku yang lain dibacanya pada sore hari termasuk roman untuk memperluas cakrawalanya. (BAGAIMANA DENGAN KITA KAWAAN??)

Pernah suatu ketika Hatta sengaja membercaki tangannya dengan tinta untuk menolak ajakan DARI seorang wanita karena dia tidak mau diganggu jam bacanya. (APAKAH KITA AKAN MELAKUKAN HAL YANG SAMA SEPERTI HATTA??)

Ketika Hatta berpindah ke rumah barunya di Batavia pada 1932, Hatta sangat kerepotan membawa berpeti-beti buku yang dimilikinya dan hanya satu koper berisi pakaian. (BERAPA BESAR PERBANDINGAN ANTARA BUKU DAN AKSESORIS YANG KITA MILIKI??).

Menurut Hatta, buku hampir menjadi benda yang sakral. Ibu Hatta pernah marah besar perihal kecintaannya pada buku. Bagaimana tidak,.. pasalnya pada saat menikah dengan Rahmi, Ia menghadiahi calon istrinya itu sebuah buku yang baru saja selesai ditulisnya berjudul “Alam Pikiran Yunani”. Biasanya dalam suatu pernikahan yang menjadi hadiah adalah benda yang berharga. Tapi inilah Hatta, Ia menganggap bahwa buku adalah harta yang paling berharga.

Sampai Hatta mempunyai tiga anak, Ia tidak menghilangkan kesukaannya pada buku dan menulis. Namun memang pada masa itu Ia lebih memfokuskan diri untuk menulis. Hampir setiap Hatta mendapat pertanyaan dari anaknya, Ia menjawab dengan menyodorkan buku. Ia memang melatih anak-anaknya untuk terbiasa membaca karena memang buku adalah gudangnya ilmu pengetahuan dan dengan membacanyalah kita bisa menemukan hal-hal yang bermanfaat. Tidak hanya itu, ketiga anaknya juga diajarkan untuk menyukai buku. Konteks menyukai buku yang diartikan Hatta sangat luas, yaitu belajar bagaimana cara membaca yang baik di depan meja belajar tidak dengan telungkup atau sambil berbaring, buku tidak boleh dilipat kulit maupun lembar kertasnya apalagi dikotori dengan makanan dan minuman.

Selain memberikan pelajaran mengenai merawat buku, Hatta juga menerapkan hukuman jika ada seseorang melakukan hal yang tidak ia sukai pada buku miliknya. Pernah suatu ketika pengusaha Hasjim Ning, keponakan Hatta meminjam buku milik Hatta. Sepulang bukunya dipinjam, dengan teliti Ia memeriksa bukunya. Ternyata ditemukan ada halaman yang terlipat, Hatta pun marah besar dan member pelajaran pada Hasjim untuk mengganti bukunya dengan buku yang baru. Hasjim pun mencari di seluruh penjuru Indonesia, alhasil tidak ditemukan yang ia cari karena buku itu hanya ada di Eropa. Hatta menanggapi dengan senyuman, inilah bukti kecintaan Hatta pada buku… (SEBERAPA BESAR CINTA KITA PADA BUKU??)..

Hatta memang sosok kutu buku, namun tidak berarti membuatnya menjadi orang yang text-book thinking. Justru Ia mencerna substansi (bkbdfib); apakah pandangan pengarangnya perlu adiadopsi, diadaptasi atau bahkan secar fundamental disanggah. Hatta sudah senang mengoleksi buku sejak usianya masih 19 tahun. Sehingga membuatnya memiliki perpustakaan pribadi yang pada masa itu merupakan perpustakaan terlengkap dan terbesar. Koleksi yang dimiliki antara lain Filsafat, Ideologi, Politik, Ekonomi, Biografi, Arsitekstur, Sastra, Pariwisata, Majalah, Jurnal, Ensiklopedia. Hampir 10.000 judul koleksi yang ia miliki. (subhanallah yaaa…..^-^)

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kebiasaan dan kesukaan Bung Hatta, apalagi kita –mahasiswa IPI sering bergelut dengan buku.. bukan berarti semakin dekat semakin bosen yaa. Cobalah kita simak perjalanan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia ini, pasti salah satu faktor yang mempengaruhi perjalanannya adalah BUKU. Baik itu membaca maupun menulis...

Okee,, simak kisah tokoh berikutnya yaaa..... (InsyaALLAH ^-^)

Firmansyah, Adhe. HATTA : Si Bung yang Jujur dan Sederhana. Yogyakarta: Ar-Rozz Media.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India