Tahukah
kamu siapa pacar pertama Bung Hatta?
Mohammad
Hatta adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam perjuangan
kemerdekaan Indonesia.. Hatta adalah sosok yang kalem, necis, pemikir serius, sederhana, berketetapan hati tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.
Namun
yang saya bahas di sini adalah pacar pertama Bung Hatta. Ketika saya
membaca salah satu judul bab pada buku “Bung HATTA: Si Bung yang
Jujur dan Sederhana” karya Adhe Firmansyah yaitu Pacar Pertama Si
Bung sedikit menggelitik saya dan membuat saya penasaran. Tahukah apa
yang saya dapatkan ketika membaca paragraf pertama dari bab ini?..
sebuah kekaguman yang luar biasa. Mohammad Hatta adalah sosok yang
jauh dari kemewahan dan kegairahan atau perempuan. Kekasihnya
adalah BUKU, BUKU, BUKU.
Hingga muncul anekdot bahwa istri utama Hatta sesungguhnya adalah
BUKU, istri keduanya adalah BUKU dan istri yang ketiga barulah Rahmi.
Sungguh mengagumkan bukan? (DI
TINGKAT BERAPA KITA MELETAKKAN BUKU SEBAGAI SESUATU YANG KITA
CINTAI??)
Sudah sejak umur lima tahun Hatta suka membaca dan menulis. Kakek Hatta-Lembaq Tuah lah yang menjadi saksi bahwa Hatta menyukai aktivitas ini. Ia selalu membuka setiap halaman dengan hati-hati, dipahami dan dicermati. Inilah salah satunya wujud Hatta menghargai dan merawat buku. Setamat sekolah di Padang, pada pertengahan Juni 1919 Hatta berangkat ke Betawi untuk melanjutkan studinya. Ia tinggal bersama Mak Etek Ayub, pamannya. Ayub adalag seorang perantau dari Bukittinggi, seorang saudagar barang hutan di Payakumbuh. Ia sahabat Ilyas Baginda Marah, Kakek Bung Hatta.
Pada masa itu, Ayub bekerja sebagai juru tulis pedagang bangsa Jerman. Selama bekerja, Ayub sangatlah rajin sehingga menjadikan sang majikan mengangkatnya menjadi seorang anak. Beberapa lama setelah menjadi anak majikan, Ayub menjadi saudagar yang kaya. Namun status kekayaannya lantas membuatnya menjadi sombong, Ia justru hidup sederhana. Ayub adalah orang yang berpengaruh dalam kehidupan Hatta karena Ia lah yang membiayai kuliah dan kehidupan Hatta selama di Jakarta.. setiap bulannya Hatta selalu dijatah 75 gulden, tentu saja jumlah mata uang ini pada masanya tidaklah sedikit untuk ukuran pelajar perantauan. Ayub tidak ingin membuat keluarga Hatta merasa direpotkan lantaran anaknya melanjutkan studinya di Jakarta.. ia sengaja menyimpan uang hasil kiriman dari orang tuanya di pos..
Ayub lah yang pertama kali memeperkenalkan Hatta pada buku, Hatta diajaknya ke toko buku dan ada tiga buku yang menjadi koleksi pertama di perpustakaannya yang bersubjek sosial, ekonomi. Stathulis Houdkunde karangan N.G. Pierson, De Socialisten karangan H.P. Quack dan Het Jaar 2000 Belamy. Pada bulan Maret 1921 Hatta pindah dari tempat kosnya ke rumah baru Mak Etek Ayub di kawasan Tanah Abang. Hatta disediakan dua ruang kamar, satu kamar untuku tidur dan satu kamar untuk ruang kerja. Menurut Hatta, pekerjaan Etek Ayub adalah dagang waktu karena Etek Ayub memainkan waktu dalam memperdagankan barang yang sudah dibelinya. Jadi semisal membeli barang sekarang, Etek Ayub menjualnya pada beberapa waktu kemudian. Tinggal untung-ruginya saja. Dan Etek Ayub pandai sekali memperkirakan nasibnya dalam persoalan dagang waktu. Pernah suatu ketika dengan mudahnya dalam waktu sepuluh menit saja Etek Ayub mampu meraup keuntungan sebesar 10 gulden.
Malang
sekali Etek Ayub mengalami kepailitan. Ia dipenjara karena tidak
mampu membayar hutangnya. Saat itu, Ia berpesan pada Hatta untuk
terus meraih cita-citanya dan berkata bahwa Ia hanya butuh istirahat
sebentar di penjara. Pada tahun 1948 Etek Ayub meninggalkan kehidupan
dunia.
Yang
perlu kita teladani dari Hatta adalah kesukaannya pada membaca dan
menulis. Bahkan Hatta membuat jadwal membaca dalam kesehariaannya.
Pada malam hari Ia membaca buku-buku pelajaran dan buku-buku yang
lain dibacanya pada sore hari termasuk roman untuk memperluas
cakrawalanya. (BAGAIMANA
DENGAN KITA KAWAAN??)
Pernah suatu ketika Hatta sengaja membercaki tangannya dengan tinta untuk menolak ajakan DARI seorang wanita karena dia tidak mau diganggu jam bacanya. (APAKAH KITA AKAN MELAKUKAN HAL YANG SAMA SEPERTI HATTA??)
Ketika
Hatta berpindah ke rumah barunya di Batavia pada 1932, Hatta sangat
kerepotan membawa berpeti-beti buku yang dimilikinya dan hanya satu
koper berisi pakaian. (BERAPA
BESAR
PERBANDINGAN
ANTARA BUKU DAN AKSESORIS YANG KITA MILIKI??).
Menurut
Hatta, buku hampir menjadi benda yang sakral. Ibu Hatta pernah marah
besar perihal kecintaannya pada buku. Bagaimana tidak,.. pasalnya
pada saat menikah dengan Rahmi, Ia menghadiahi calon istrinya itu
sebuah buku yang baru saja selesai ditulisnya berjudul “Alam
Pikiran Yunani”. Biasanya
dalam suatu pernikahan yang menjadi hadiah adalah benda yang
berharga. Tapi inilah Hatta, Ia menganggap bahwa buku adalah harta
yang paling berharga.
Sampai
Hatta mempunyai tiga anak, Ia tidak menghilangkan kesukaannya pada
buku dan menulis. Namun memang pada masa itu Ia lebih memfokuskan
diri untuk menulis. Hampir setiap Hatta mendapat pertanyaan dari
anaknya, Ia menjawab dengan menyodorkan buku. Ia memang melatih
anak-anaknya untuk terbiasa membaca karena memang buku adalah
gudangnya ilmu pengetahuan dan dengan membacanyalah kita bisa
menemukan hal-hal yang bermanfaat. Tidak hanya itu, ketiga anaknya
juga diajarkan untuk menyukai buku. Konteks menyukai buku yang
diartikan Hatta sangat luas, yaitu belajar bagaimana cara membaca
yang baik di depan meja belajar tidak dengan telungkup atau sambil
berbaring, buku tidak boleh dilipat kulit maupun lembar kertasnya
apalagi dikotori dengan makanan dan minuman.
Selain
memberikan pelajaran mengenai merawat buku, Hatta juga menerapkan
hukuman jika ada seseorang melakukan hal yang tidak ia sukai pada
buku miliknya. Pernah suatu ketika pengusaha Hasjim Ning, keponakan
Hatta meminjam buku milik Hatta. Sepulang bukunya dipinjam, dengan
teliti Ia memeriksa bukunya. Ternyata ditemukan ada halaman yang
terlipat, Hatta pun marah besar dan member pelajaran pada Hasjim
untuk mengganti bukunya dengan buku yang baru. Hasjim pun mencari di
seluruh penjuru Indonesia, alhasil tidak ditemukan yang ia cari
karena buku itu hanya ada di Eropa. Hatta menanggapi dengan senyuman,
inilah bukti kecintaan Hatta pada buku… (SEBERAPA
BESAR CINTA KITA PADA BUKU??)..
Hatta
memang sosok kutu buku, namun tidak berarti membuatnya menjadi orang
yang text-book
thinking. Justru
Ia mencerna substansi (bkbdfib); apakah pandangan pengarangnya perlu
adiadopsi, diadaptasi atau bahkan secar fundamental disanggah. Hatta
sudah senang mengoleksi buku sejak usianya masih 19 tahun. Sehingga
membuatnya memiliki perpustakaan pribadi yang pada masa itu merupakan
perpustakaan terlengkap dan terbesar. Koleksi yang dimiliki antara
lain Filsafat, Ideologi, Politik, Ekonomi, Biografi, Arsitekstur,
Sastra, Pariwisata, Majalah, Jurnal, Ensiklopedia. Hampir
10.000 judul koleksi yang ia miliki. (subhanallah yaaa…..^-^)
Semoga
kita bisa mengambil pelajaran dari kebiasaan dan kesukaan Bung Hatta,
apalagi kita –mahasiswa IPI sering bergelut dengan buku.. bukan
berarti semakin dekat semakin bosen yaa. Cobalah kita simak
perjalanan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia ini, pasti salah satu
faktor yang mempengaruhi perjalanannya adalah BUKU. Baik itu membaca
maupun menulis...
Okee,,
simak kisah tokoh berikutnya yaaa..... (InsyaALLAH ^-^)
Firmansyah,
Adhe. HATTA
: Si Bung yang Jujur dan Sederhana.
Yogyakarta: Ar-Rozz Media.



21.55
Tati Ummu Ghazi

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar