Hemm.. to the point aja yaaa..bagaimana sih perasaan kalian, ketika
menjalankan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati kalian? Tidak pas dengan
keinginan kalian? Tidak kalian tahu, kalian suka, kalian kenal???
Bagaimana jika sudah terlanjur
menjalankan itu? Apakah akan berhenti meninggalkan yang tidak kalian sukai itu?
Atau berusaha menjalani itu semua, mengingat ada pepatah “witing tresno jalaran soko kulino” ketika mencoba menjalani secara
berulang kali akan menumbuhkan kesukaan?
Setiap pribadi memiliki pendapat
yang berbeda-beda dengan sudut pandangnya masing-masing.
Sebentar... ini sebenarnya
mempermasalahkan apa yaa?...
Tulisan ini akan membicarakan
jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi (selanjutnya kita sebut IPI), ketika
banyak mahasiswa yang ternyata memilih jurusan IPI atas dasar keterpaksaan..
bukan pilihan utama dan tujuan utama. Seperti halnya saya, yang masuk di
jurusan IPI bukan karena pengetahuan tentang ilmu perpustakaan dan
terkaget-kaget ketika mengetahui kurikulum pembelajarannya...... “haaaa..gak
ada hitung-hitungannya???, semuanya baruu.” Udah rasanya ingin transfer jurusan
tapi apa daya..
Saya tak berhenti di situ, tetap
mencoba mencintai dan menikmati keterlanjuran ini –kata Bu Sri dalam acara
talkshow. Butuh usaha yang ekstraa... sampai-sampai ingin rasanya mencari
biografi tokoh-tokoh pustakawan di dunia ini. Apa sebenarnya yang membuat
mereka terjun di dunia kepustakawan yang banyak tidak saya tahu apa menariknya,
sementara ada tidak sedikit mahasiswa yang menganggap tersesat memilih jurusan,
semoga tersesat dalam jalan kebenaran J. Jadi.. sedikit demi
sedikit waktu saya luangkan untuk mencari referensi yang membicarakan kiprah
seseorang dalam dunia kepustakawan.. huh namun sedikit sekali saya temukan.
Padahal banyak sekali tokoh-tokoh besar dan berpengaruh. Kalaupun ada, saya
harus menerjemahkannya. Perlu berkali-kali kerja untuk mengetahui sejarah tokoh
ilmuwan dan pustakawan. Seperti yang disampaikan oleh Pak Blasius, ilmuwan dan
pustakwan dalam dunia kepustakawanan. Dalam diskusi publik dan obrolan santai,
beliau berulang kali menekankan pada kita, siapa yang menjadi teladan, contoh
bagi pustakawan. Jika guru maka tokoh teladannya adalah Ki Hajar Dewantara,
jika Insinyur tokoh teladannya adalah Habibie. Tapi tetap, yang jadi teladan
bagi umat beragama Islam adalah Nabi Muhammad SAW.
Saya awali dengan menulis Charless
Ammi Cutter, tokoh yang paling saya ingat pertama kali di mata kuliah
Dasar-Dasar Katalogisasi yang saat itu diampuh oleh Pak Anis. Beliau sangat
menekankan hukum-hukum yang diciptakan oleh
Cutter sampai-sampai beliau menjadikannya soal dalam UTS (Ujian Tengah
Semester) dan Ujian Ulang Tengah Semester. Sehingga dari keterbiasaan itu
melatih otak untuk menyimpan memori tersebut tanpa ada pemaksaan menghafal nama
asing itu.
Ammi Cutter lahir di Boston,
Massachusetts. Awal kiprahnya dalam dunia kepustakawanan adalah ketika beliau
masih duduk sebagai pelajar di Sekolah Harvard, sekaligus belajar menjadi
asisten pustakawan. Baru setelah lulus, Cutter bekerja sebagai pustakawan di Kampus
Harvard. Dari situlah tempat yang menjadi awal penemuan dan mengembangkan
indeks katalog dengan menggunakan kartu. Cutter memiliki kontribusi yang sangat
signifikan dalam perkembangan bidang ilmu Perpustakaan dan Informasi, salah
satunya yaitu pada perkembangan sistem perluasan klasifikasi, sistem ini
mempengaruhi perkembangan di Library Congress. Sebagai bagian dari pekerjaannya
pada sistem ini, beliau mengembangkan sistem yang menggunakan tabel menurut
abjad dengan menyingkat nama-nama pengarang dan dengan begitu menghasilkan
nomor panggil yang unik. Sisttem penomoran ini masih dipakai hingga sekarang.
Jadi ketika pemustaka atau siapa pun yang terjun dalam dunia kepustakawanan
maka akan menemui singkatan nama pengarang dalam nomor panggil sebuah koleksi.
Nah inilah yang dicetuskan oleh Cutter yang sampai sekarang masih dirasakan
manfaatnya. Cutter juga merupakan satu dari 100 atau bahkan lebih dati anggota
yang mendirikan ALA (American Library Assosiation) pada tahun 1876 di mana
Cutter merupakan salah satu anggota dari Library Hall of Fame.
Kita flash back pada saat Cutter
menjadi asisten pustakawan atau dari sumber yang saya baca disebut sebagai
Pelajar-Pustakawan. Cutter menjabat sebagai Pelajar-Pustakawan sejak tahun
1857-1859 di Sekolah Harvard Divinity. Cutter menyusun kembali koleksi
perpustakaan di rak ke dalam perluasan kategori subjek selama tahun 1857-1858. Setelah
lulus dari sekolahnya, Cutter menjadi asisten Dr. Erza Abbot, asisten
pustakawan Perpustakaan Universitas Harvard. Beberapa tahun kemudian pada tahun
1868 Cutter menerima sebuah posisi di Perpustakaan Athenaeum. Salah satu tujuan
utama adalah untuk mempublikasikan sebuah kamus katalog yang lengkap untuk
menjadi koleksi mereka. Cutter menjadi pustakawan di Boston Athenaeum selama
dua lima puluh tahun. Pada tahun 1876 Cutter diajak oleh Pendidikan Bureau
untuk membantu menulis sebuah laporan tentang perpustakaan swasta. Dari
pengalaman yang dialami oleh cutter, kita dapat menyelaraskan dengan pustakawan
masa kini. Sejak dahulu hingga sekarang, pustakawan tidak bisa dilepaskan dari
dunia kepenulisan. Beliau juga menjadi salah satu editor di sebuah jurnal
perpustakan sejak tahun 1891-1893. Dari beragam artikel yang ditulisnya, salah
satu artikel yang sangat terkenal berjudul “The Buffalo Public Library in 1983”.
Dalam artikel tersebut, beliau menuliskan tentang apa yang ada dalam
pemikirannya tentang perpustakaan. Seperti apa perpustakaan pada ratusan tahun
yang akan datang.
Pada tahun 1903 Cutter
meninggalkan dunia kepustakawanan saat tujuannya belum mampu beliau selesaikan.
Beliau berusaha untuk mengembangkan sistem pengkatalogan yang disebut sistem perluasan
klasifikasi. Beliau meninggal pada tepatnya tanggal 6 September 1903 di
Walpole, New Hampshire.
Meskipun tujuannya belum tercapai
sepenuhnya, namun jasanya dapat dirasakan dalam dunia kepustakawanan... sedikit
dari kita yang mengetahui perjalanan tokoh berpengaruh ini. Oleh sebab itu saya
belajar mengulas secara singkat tentang tokoh perpustakaan dengan referensi
yang terbatas..



18.06
Tati Ummu Ghazi

Posted in:
1 komentar:
oalah...
ini toh tulisannya yang diketik2 tadi sampe jerit2 sendiri...
ternyata masuk IPI karena terpaksa..
tulisannya apik dek,....
lanjutkan,, tak tunggu lagi entrinya ^_^
Posting Komentar