Kamis, 29 Maret 2012

TULUS, ISTIQOMAH.. itulah PUSTAKAWAN SEJATI.


Hari ini seolah-olah memang Allah sudah menuntun kaki saya untuk bisa bertemu dengan salah satu inspirator saya. Insipator penyebar ilmu, pengetahuan, informasi, pembuka literasi masyarakat yang tadinya merupakan masyarakat illaterate. Pertemuan yang tak terencana dengan beliau, Bapak Agung. Beliau adalah salah satu guru di SD Widosari dekat Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Guru di mata pelajaran komputer dan membantu di perpustakaan SD tersebut. Dengan gaya yang rendah hati, beliau menceritakan sedikit pengalaman hidup semasa masih menjadi mahasiswa dan itu mampu membuat saya, Diah dan Ikhsan tercengang dan kagum, subhanallah. Sarjana pendidikan Agama adalah title yang beliau dapatkan setelah menempuh jalur pendidikan di UMY. Namun tidak untuk saya, beliau adalah penyebar ilmu yang tak kenal lelah dan arah. Dengan jujur, beliau bercerita bahwa semasa kuliah mendapatkan beasiswa kurang mampu, dan menjadi loper koran untuk sedikit mencukupi kebutuhannya. Ini memang biasa tapi yang luar biasa adalah beliau membayar koran-koran sisa dari penjualannya bahkan beliau sempat meminjam uang kesana kemari hanya untuk membeli koran itu dan mengumpulkannya. Bukankah dengan begitu beliau belum berhasil sedikit mencukupi kebutuhannya?, tapi ternyata ilmu juga merupakan kebutuhannya yang membawa beliau menjadi orang yang subhanallah luar biasa hingga sekarang ini. Semua itu beliau lakukan bukan tanpa tujuan, namun ada tujuan jangka panjang yang hendak beliau capai.


Ketika tidak sengaja menyinggung tentang TBM(Taman Bacaan Masyarakat), saya langsung tertarik sekali berbincang-bincang dengan beliau. Secara reflek beliau menunjukkan beragam video dan foto tentang TBM. Salah satunya tentang rumah yang sekaligus menjadi taman bacaan masyarakat yang beliau beri nama TBM ADIL. Rumah yang sederhana namun mampu memikat dengan tembok yang berdindingkan buku, lantai yang berserakan buku, di situlah letak daya tarik rumah beliau. Rumah penuh kemuliaan dengan beragam ilmu yang terkandung di sana. Dengan rumah sekecil itu mampu membawa kita keliling dunia, membuka mata, pikiran jika buku itu kita baca pahami cermati dan amalkan.


Langsung saja saya menyerobot pertanyaan dasar yang menjadi kunci sampai terbentuknya rumah yang penuh berkah itu. Ternyata yang menjadi pedoman beliau adalah ISTIQOMAH dan IBADAH. Sempat belliau berkata, “seandainya saya tidak istiqomah mungkin saya tidak akan bisa seperti ini, bisa berbagi dengan masysrakat, bermanfaat, dll”.
Awalnya beliau hanya mempunyai lima buku di rumahnya, yang beliau manfaatkan untuk dipinjam orang lain. Bagaimana dengan teman-teman, apakah koleksinya sudah bermanfaat dan difungsikan untuk orang lain? Atau hayo jangan-jangan malah masih tertata rapih di rak buku dan tertumpuk di kardus?..
Hanya sehari saja saat itu, terasa membekas sekali. Memang benar, saya katakan lagi dan tidak bosannya bahwa “Sesuatu yang pertama itu berkesan dan susah untuk dilupakan. Bagaimana tidak berkesan, dengan murah hati beliau berbagi ilmu dan pengalaman kepada kita, kita yang niatnya membantu malah diajak berbincang-bincang dengan beliau. Dakwah lewat TBM, itulah salah satu tujuan beliau. Kita dibukakan pikiran dan hati oleh cerita yang disampaikan, di mana letak kepekaan kita sebagai seseorang yang berilmu? Bukankah seharusnya ilmu itu kita bagikan kepada setiap orang?

Mengutip perkataan Bu Trini, kepala YPPI. "Jangan-jangan kita telah melakukan dosa sosial?." Astagfirullah... Dimana kita diperintahkan menyebarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain walaupun sedikit. Ini yang sudah diterapkan oleh Pak Agung, hampir setiap sore beliau berkeliling ke lingkungan sekitar rumah untuk membagikan ilmu. Ilmu yang terkandung dalam buku-buku yang diangkutnya dengan motor khusus dari rumah hingga masyarakat sekitar. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua menikmati sajian yang dibawa oleh Pak Agung. Semua koleksi beliau sediakan sesuai kebutuhan masyarakat. Tahukah.. pengobat di kala Pak Agung kelelahan adalah keliling di sekitar rumah untuk meminjamkan buku-buku tersebut. Melihat senyum anak-anak menyambut beliau lah yang membuat rasa letih selama setengah harian ada di sekolah dan perpustakaan jadi hilang. Bahkan hingga larut malam, rumah beliau masih terbuka melayani masyarakat yang membutuhkan hiburan, informasi lewat buku.

Subhanallah bukan?
Terpikirkah oleh kita untuk berbuat semulia dan setulus yang dilakukan oleh beliau?
Tulisan ini hanyalah sekelumit cerita tentang Pak Agung, sebenarnya masih banyak hal yang perlu digali dari orang-orang seperti beliau.
Akan ada cerita tokoh-tokoh inspirator saya di mozaik yang selanjutnya....

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India