Hari ini seolah-olah memang Allah sudah
menuntun kaki saya untuk bisa bertemu dengan salah satu inspirator saya.
Insipator penyebar ilmu, pengetahuan, informasi, pembuka literasi masyarakat
yang tadinya merupakan masyarakat illaterate. Pertemuan yang tak terencana
dengan beliau, Bapak Agung. Beliau adalah salah satu guru di SD Widosari dekat Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Guru di mata pelajaran komputer dan
membantu di perpustakaan SD tersebut. Dengan gaya yang rendah hati, beliau
menceritakan sedikit pengalaman hidup semasa masih menjadi mahasiswa dan itu
mampu membuat saya, Diah dan Ikhsan tercengang dan kagum, subhanallah. Sarjana
pendidikan Agama adalah title yang beliau dapatkan setelah menempuh jalur
pendidikan di UMY. Namun tidak untuk saya, beliau adalah penyebar ilmu yang tak
kenal lelah dan arah. Dengan jujur, beliau bercerita bahwa semasa kuliah
mendapatkan beasiswa kurang mampu, dan menjadi loper koran untuk sedikit mencukupi
kebutuhannya. Ini memang biasa tapi yang luar biasa adalah beliau membayar koran-koran
sisa dari penjualannya bahkan beliau sempat meminjam uang kesana kemari hanya
untuk membeli koran itu dan mengumpulkannya. Bukankah dengan begitu beliau
belum berhasil sedikit mencukupi kebutuhannya?, tapi ternyata ilmu juga
merupakan kebutuhannya yang membawa beliau menjadi orang yang subhanallah luar
biasa hingga sekarang ini. Semua itu beliau lakukan bukan tanpa tujuan, namun
ada tujuan jangka panjang yang hendak beliau capai.
Ketika tidak
sengaja menyinggung tentang TBM(Taman Bacaan Masyarakat), saya langsung
tertarik sekali berbincang-bincang dengan beliau. Secara reflek beliau
menunjukkan beragam video dan foto tentang TBM. Salah satunya tentang rumah
yang sekaligus menjadi taman bacaan masyarakat yang beliau beri nama TBM ADIL. Rumah yang sederhana
namun mampu memikat dengan tembok yang berdindingkan buku, lantai yang
berserakan buku, di situlah letak daya tarik rumah beliau. Rumah penuh
kemuliaan dengan beragam ilmu yang terkandung di sana. Dengan rumah sekecil itu
mampu membawa kita keliling dunia, membuka mata, pikiran jika buku itu kita
baca pahami cermati dan amalkan.
Langsung saja
saya menyerobot pertanyaan dasar yang menjadi kunci sampai terbentuknya rumah
yang penuh berkah itu. Ternyata yang menjadi pedoman beliau adalah ISTIQOMAH
dan IBADAH. Sempat
belliau berkata, “seandainya saya tidak istiqomah mungkin saya tidak akan bisa
seperti ini, bisa berbagi dengan masysrakat, bermanfaat, dll”.
Awalnya beliau
hanya mempunyai lima buku di rumahnya, yang beliau manfaatkan untuk dipinjam
orang lain. Bagaimana dengan teman-teman, apakah koleksinya sudah bermanfaat
dan difungsikan untuk orang lain? Atau hayo jangan-jangan malah masih tertata
rapih di rak buku dan tertumpuk di kardus?..
Hanya sehari saja saat itu, terasa
membekas sekali. Memang benar, saya katakan lagi dan tidak bosannya bahwa
“Sesuatu yang pertama itu berkesan dan susah untuk dilupakan. Bagaimana tidak
berkesan, dengan murah hati beliau berbagi ilmu dan pengalaman kepada kita,
kita yang niatnya membantu malah diajak berbincang-bincang dengan beliau. Dakwah
lewat TBM, itulah salah satu tujuan beliau. Kita dibukakan pikiran dan hati
oleh cerita yang disampaikan, di mana letak kepekaan kita sebagai seseorang
yang berilmu? Bukankah seharusnya ilmu itu kita bagikan kepada setiap orang?
Mengutip perkataan Bu Trini, kepala
YPPI. "Jangan-jangan kita telah melakukan dosa sosial?." Astagfirullah... Dimana
kita diperintahkan menyebarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain walaupun
sedikit. Ini yang sudah diterapkan oleh Pak Agung, hampir setiap sore beliau
berkeliling ke lingkungan sekitar rumah untuk membagikan ilmu. Ilmu yang
terkandung dalam buku-buku yang diangkutnya dengan motor khusus dari rumah
hingga masyarakat sekitar. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua
menikmati sajian yang dibawa oleh Pak Agung. Semua koleksi beliau sediakan
sesuai kebutuhan masyarakat. Tahukah.. pengobat di kala Pak Agung kelelahan
adalah keliling di sekitar rumah untuk meminjamkan buku-buku tersebut. Melihat
senyum anak-anak menyambut beliau lah yang membuat rasa letih selama setengah
harian ada di sekolah dan perpustakaan jadi hilang. Bahkan hingga larut malam,
rumah beliau masih terbuka melayani masyarakat yang membutuhkan hiburan,
informasi lewat buku.
Subhanallah bukan?
Terpikirkah oleh kita untuk berbuat
semulia dan setulus yang dilakukan oleh beliau?
Tulisan ini hanyalah sekelumit cerita
tentang Pak Agung, sebenarnya masih banyak hal yang perlu digali dari
orang-orang seperti beliau.
Akan ada cerita tokoh-tokoh inspirator
saya di mozaik yang selanjutnya....



21.45
Tati Ummu Ghazi


Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar