Sabtu, 26 Mei 2012

DDC oh... DDC


Balik lagi niiih,, penulis ulung yang suka ngomongin tokoh-tokoh berpengaruh dalam bidang pusdokinfo lewat tulisan.. lebih tepatnya di bidang perpustakaan... sekarang edisi tokoh manca (kaya musik aja.. ada manca ada indo). Kalau kemarin tokoh Indonesia kita pernah bicarain Pak Agung, tokoh Manca ada Charles Ammi Cutter, nah sekarang saatnya membicarakan Dewey.. apa yang terlintas dalam pikiran teman-teman dari jurusan ilmu perpustakaan ketika berbicara Dewey??. ‘KLASIFIKASI yang merumitkan, menyenangkan, memusingkan, melelahkan”.. itu bisikan dalam hatiku, entah bagaimana dengan teman-teman lainnya. Banyak kenangan dengan sesuatu yang berkaitan dengan klasifikasi, susah senangnya selama kuliah ini baik menggunakan Dewey Decimal Classification (DDC) dengan IV jilidnya yang setiap jilidnya tebal-tebal maupun menggunakan DCC edisi ringkasnya yang sama-sama berkesan. ini nih pedoman yang anak Perpustakaan gunakan 

Saya mengenal mata kuliah ini sejak semester 3 di bangku kuliah, karena memang ada mata kuliah dasar-dasar klasifikasi dalam kurikulum. Namun, mengenal tokoh penemu DDC ini baru-baru ini saja karena tergerak untuk mengetahui tokoh-tokoh sejarah yang berjasa dalam kemajuan Ilmu Perpustakaan. Langsung saja yaaa.........
Dari hasil saya berselancar di dunia internet, ternyata nama panjangnya Melville Louis Kossuth Dewey. Beliau lahir pada 10 Desember 1851 dan meninggal pada tanggal 26 Desember 1931, jadi umur genetis beliau 80 tahun namun kontribusi beliau sampai sekarang masih kita nikmati.. Kalau dalam Agama Islam kita sebut sebagai amal jariyah, di mana pahalanya mengalir terus tiada henti. Subhanallah yaa..beliau lahir dari kalangan keluarga yang kurang berada, dan tinggal di sebuah kota dekat New York. Dari nama yang panjang itu, Ia menghilangkan nama tengahnya, memotong nama depannya menjadi Melvil dan bahkan dalam waktu dekat itu, nama belakangnya disingkat menjadi Dui. Beliau adalah penemu Sistem DDC, nama sistem klasifikasi yang diambil dari nama terakhirnya ditemukan ketika baliau masih berumur 21 tahun dan masih bekerja sebagai asisten di perpustakaan perguruan tinggi Amherst. Beliau merupakan revolusioner dalam Ilmu Perpustakaan dan mengatur gerakan di era baru dari Keperpustakaan. Melvil Dewey pantas mendapat julukan sebagai Bapak  Modern Perpustakaan. Banyak sebutan yang dicurahkan kepada Dewey. Dalam sumber lain, dijelaskan bahwa Dewey merupakan salah satu pioner ALA dan tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan perpustakan-perpustakaan di Amerika pada awal abad 20.


Hampir beliau selalu berjasa di bidang Perpustakaan dan Informasi. Beliau membantu membangun dan mengembangkan American Library Association (ALA) pada tahun 1876, menjabat menjadi sekretaris ALA dari tahun 1876-1890, pada tahun yang bersamaan yaitu tahun 1883-1888 menduduki jabatan sebagai Kepala di Perpustakaan Universitas Columbia, kemudian sejak tahun 1888-1906 menjadi direktur Universitas Negeri New York.
Selama menjadi Pustakawan di Perguruan Tinggi Columbia pada tahun 1883, di tahun-tahun berikutnya beliau mendirikan Sekolah Perpustakaan Ekonomi, institusi pertama untuk memberikan pengajaran pada pustakawan yang diorganisir. Sekolah ini berjalan sangat sukses dan berhasil yang kemudian dipindah ke Albani pada tahun 1890.
Selain dalam dunia perpustakaan ternyata beliau juga berjasa membantu dalam penemuan Danau Placid Club, Florida sebagai tempat beristirahat yang bermanfaat dalam kesehatan. Di danau inilah Dewey menutup matanya, menghembuskan nafas terakhirnya.
Dalam sumber yang saya baca, belum saya dapatkan bagaimana Dewey mampu membuat sistem klasifikasi ini. Sistem yang begitu rumit dan kompleks.. Padahal ingin sekali saya mengetahui kronologi bagaimana bisa terciptanya pedoman yang sangat bermanfaat dalam dunia perpustakaan. Mungkin ada teman-teman yang mengetahui secara rinci dapat berbagi dengan saya. Informasi yang terbatas ini saja yang dapat saya sampaikan.... Namun dari sini kita dapat belajar bahwa menjadi penemu merupakan perbuatan yang sangat mulia, ketika umur secara biologis kita berhenti lain halnya dengan umur kontribusi kita dri hasil penemuan yang digunakan oleh masyarakat. seperti Dewey, beliau meninggal pada umur 80 tahun namun kontribusinya sampai sekarang masih dirasakan.. subhanallah bukan. mari teman-teman kita berkarya dan berinovasi dalam memberikan kontribusi untuk perpustakaan pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Gambatte kudasai!!!!

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India